Di awal bulan Mei 2011 Datuk Dr Ahmad Kamal Abdullah yang sering dipanggil dengan Datuk Kemala mendapat kan Anugerah Sastera Negara, segaligus menyandang gelar Sastrawan Negara (SN) Malaysia yang diumumkan oleh wakil Perdana Menteri Malaysia. Dikatakan hasil karya Datuk Kemala ini bermutu tinggi dalam daya renung, tinggi daya cipta dan reka serta mempunyai nilai estetika yang mengagumkan.
Sebelumnya hanya ada sepuluh penyair yang menyandang gelar Sastrawan Negara di Malaysia, dan kini Datuk Kemala ini adalah yang ke 11.
Datuk Kemala yang kakek nya berasal dari Pasaman Sumatra barat, pada masa terjadi nya musibah gempa di Padang mengkoordinir untuk menerbitkan buku antologi puisi penyair Nusantara (penyair dari Malaysia dan Indonesia) dengan judul Musibah Gempa Padang. Buku yang hasil penjualan nya untuk sumbangan bantuan kemanusian di Padang itu di luncurkan di Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aih Ange Sumatra Barat Indonesa. Acara yang dihadiri oleh Taufiq Ismail dan sastrawan-penyair Sumbar lainnya serta Akademi Penyair Malaysia (APMA) diadakan tgl 30 Januari 2010.
Di awal tahun 2011 Datuk Kemala juga menerbitkan lagi buku Antologi Puisi karya Kemala dan Penyair Nusantara (dari Indonesia, Malaysia dan Singapura) yang peluncurannya diresmikan oleh Y.Bhg. Prof Madya Dr. Che Ibrahim Saleh Dekan FBMK (Fakulti Bahasa Moden dan Komunikasi), Universiti Putra Malaysia. Pada hari peluncuran yang dihadiri tidak saja penyair Malaysia yang datang dari Kuala Lumpur, Melaka, Bangi dan sekitarnya juga hadir penyair dari Singapore dan Indonesia. Penyair penyair dari Indonesia yang hadir diantaranya : Rida K. Liamsi dari Pekan baru, Riau Indonesia.; Sastri Bakry dari Padang Indonesia; Hermayulis dari Jakarta, dan Free Hearthy dari Jakarta.
Pada acara peluncuran buku yang berjudul Meditasi Dampak 70 Kemala di Kuala Lumpur itu, acara dimeriahkan dengan bacaan puisi dari para hadirin/penyair termasuk saya yang juga membacakan puisi karya saya yang dimuat dalam buku antologi puisi yang juga di luncurkan di PDS HB Yasin Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tgl 26 Maret 2011.
Puisi saya yang berjudul Detik bertema selamat Ulang Tahun kepada Datuk Kemala yang kebetulan hari Peluncuran buku itu adalah bertepatan dengan ulang tahun Datuk Kemala yang ke 70.
Penulis dan penyair Indonesia juga pernah diundang oleh Datuk Kemala untuk hadir dan memberikan presentasi kertas kerja tentang sastra pada Seminar Kepengarangan Muslimah Nusantara yang diadakan di Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur. Pada acara ini juga hadir sastrawan/Penulis dari Indonesia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand. Dari Indonesia yang hadir diantaranya : Fajrul Rachman, Hudan Hidayat, Dr. Silvia Hanaeni, Emmy Marthala, Kirana Kejora, Yo Sugianto, Abidah el-Khaliqie.
Datuk Kemala yang sudah bergelut dalam dunia penulisan khususnya puisi selama 40tahun sering mengadakan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia untuk menghadiri dan mempresentasikan kertas kerja pada pertemuan-pertemuan sastra di Indonesia. Beberapa karya Datuk yang yang pernah menerima SEA Write Award pd th 1986 ini, diantaranya ditulis saat beliau di Jakarta-condet-Cipayung, puncak, kudus, Demak,Brebes, Solo,Bandung, Danau Maninjau, dll yang terhimpun dalam buku yang berjudul Ziarah Tanah Kudup.
Datuk Kemala yang oleh kawan-kawan nya sesama penyair disebut sebut sebagai the Khalil Gibran of Malaysia, saat menginap di rumah Affandi, pelukis kesohor Indonesia menulis puisi yang cantik dengan judul Kamar Affandi.
Kamar Affandi
Kamar purnama penuh
Wanginya sejuta bunga
Sarathati mendukung cinta.
Kamar mawar dan kekasih
Ninabobo dan hati
Tidur pualam sanjungan Kemala
Di bawah payung kota Yogya.
Dendamku sepanjang zaman
Hutan terbakar kembali berseri.
Kamar hayat kamar kasih
Kuukir dicumbu sakti
Ada kecicil angin dini.
Ayun-temayun nyanyi
Beralun, di alun-alun
Dalam mimpi
Dalam sepi.
Yogyakarta, 1983
(puisi Dicuplik dari Kumpulan puisi PELABUHAN PUTIH 1989:36
