Untuk mencapai Labuan, pulau yang lokasinya 10km dari pantai Sabah, dari Kuala Lumpur kami menaiki pesawat Air Asia dari LCCT, Low Cost Carrier Terminal selama 2,5 jam.
Berbeda dengan di KLIA, Kuala Lumpur International Airport dengan gedung yang sangat besar dan luas serta megah, LCCT , walau sekarang sudah agak luas, nampak ramai dan crowded.
Setiba di LCCT saya agak panik melihat antrian yang panjang saat self check in dengan menggunakan mesin automatic, saat barang barang di scan kemudian saat menyerahkan koper di baggage dropp. Akan tetapi karena kesigapan petugas dan keteraturan masyarakat yang mengantri dan tak ada yang main serobot, semua berjalan dengan cepat dan tak makan waktu yang lama.
Ketika diberitahukan bebrapa menit lagi kapal akan mendarat di Pulau, yang dulunya merupakan bagian dari Kesultanan Brunei yang diserahkan kepada British pada 1846, yang terlihat dari jendela pesawat adalah laut yang menghampar luas. Menjelang pesawat akan landing barulah nampak daratan Pulau dengan pohon2 menghijau serta bangunan2 tinggi serta jalanan yang lebar dan teratur . Pulau yang bernama Labuan yang mendapat julukan Peal of Borneo dan berstatus Duty Free.
Sebelum berjalan jalan kesekeliling kota/pulau labuan yang jumlah penduduk berkisar 100.000 orang (wikepedia) dan majoritas keturunan Kadayan-Brunei, beragama Islam dan bertutur bahasa Melayu dengan dialek setempat, saya makan siang di Restaurant Malindo (Malaysia Indonesia). Saat itu meja hampir semua terisi dan harga makanan disana relative tak terlalu mahal…sekitar Rm9, makanan standar nasi plus ikan dan sayur. Saya memilih ikan pari asam pedas , tumis sayur pare yang memiliki rasa sensasi yang agak pahit sedikit, kemudian gulei nangka, orang minang menyebutnya gulei cubada dan air mineral.
Pertama kita ke Mall Finance Park dengan bagunan gedung tinggi yang lantai atas nya adalah perkantoran dan sebelahnya ada apartment mewah yang disewakan harian yang harganya tak jauh beda dengan hotel berbintang yang banyak di temui di Pulau yang pernah dikuasai oleh Jepang pada th 41-45 yang namanya menjadi Pulau Maida sesuai dengan nama Komander Tentara Jepang yang mendarat di Labuan.
Di Mall yang besar dan tak terlalu ramai dikunjungi orang yang nampak pertama toko buku, ada perasaan bangga melihat buku buku karya Habiburahman El Shiraji dan buku karya ahmad Fuadi di jual di pulau nun jauh disini, setelah puas window shopping kita melanjutkan perjalanan ke museum melewati taman yang bersih dan sepi, mengingatkan suami akan taman Martha Tiaahu di Blok M Jakarta yang sering dikunjunginya waktu kecil dulu karena lokasi yang dekat dengan rumahnya di Jl. Melawai Raya.
Di museum Labuan selain menceritakan sejarah tentang kota Labuan yang sudah didatangi Inggris sejak th 1800an, ada kisah yang menceritakan saat Majapahit pun pernah menguasai daerah kawasan yang saat itu termasuk wilayah kerajaan Brunei Darrusalam. Jadi tepatlah apa yang dikatakan pada sumpah Palapa yang pada saat itu ingin mempersatukan Nusantara. Yang dimaksud majapahit Nusantara diantarnya ada lah negara2 yang sekarang termasuk Brunei, Singapore, Malaysia Indonesia Pilipina selatan, Thailand selatan.
Sebenarnya masih banyak yang ingin dikunjungi di kota/pulau ini tapi saya sudah penat akhirnya balik dan istirahat di hotel yang tariff nya rm160an per malam. Hotel yang nyaman dan luas dengan dilengkapi meja makan dan kursi tamu walau bukan hotel mewah.
Sorenya setelah beristirahat kita jalan jalan lagi sekitar hotel yang lokasinya di tengah tengah kota. Kita ke pantai sebelah Labuan Marina. Tampak ada beberapa orang yang memancing dan banyak kapal kapal tanki di perairan. Tak lupa saya mengambil pasir pantai sebagai koleksi. Pasir di satu pantai dengan pantai lain nya sangat berbeda mempunyai khas yang tersendiri.
Menjelang senja kita meninggalkan pantai dan makan malam di Medan Selera (food court/Puja Sera) disekitar situ. Saya tergiur dengan ayam bakar yang harganya Rm2 satu potong dan saya minta soup yang satu porsi harganya berkisar Rm4. Rasa makanan yang standar saja tidak terlalu istimewa tapi juga tidak tak enak dan lumayanlah sudah memenuhi standar gizi, empat sehat lima kenyang.
Nampaknya penjual makanan di Medan Selera yang terlihat bersih dan nyaman banyak orang orang Indonesia yang berasal dari Jawa, rasa makanan nya pun agak mirip masakan Indonesia.
Keesokan, di hari Senin saat suami mengunjungi students yang tengah magang ( practical/ latihan Industri) di jabatan Meteorologi Malaysia dan menguji serta mendengarkan students yang memberikan presentasi apa yang sudah dikerjakan selama 6bulan, saya browsing internet di ruang tamu dengan laptop kecil yang sudah saya siapkan dan menulis catatan perjalanan yang rencana nya catatan perjalanan saya ini akan saya buku-kan.
Siang nya sebelum bertolak ke Kota Kinabalu kita diantar oleh teman yang tinggal di Labuan untuk mengunjungi Chimney Historical Complexs. yang berlokasi di Tanjung Kubong, 20 menit dari pusat kota dengan mengendarai mobil.
Di kompleks itu ada Pusat Informasi Chimney, museum yang memamerkan sejarah penambangan batu bara dan Menara Chimney, artifak bagunan yang mempunyai ketinggian 32m dari era pertambangan batu bara sejak th 1847 hingga 1911 yang berlokasi di Tanjung Kubong Labuan.
labuan
July 25, 2011 by unilily
Advertisement