Sekali Jalan dua tiga pulau di kunjungi
Kuliner
Sesampai di Pelabuhan Batam langsung makan di Resto Padang dan yang pertama dipesan adalah Teh Botol…glek langsung habis….pesen makanan nasi padang standar, ayam bakar, pucuk paranciah (sayur daun singkong), perkedel tak lupa sambal lado ijau (sambel cabe hijau)..nym nyum….tapi ow ow….banyak yang merokok padahal ruangan ini ber AC….duh duh gimana nih my daughter alergi berat nih, Masih soal perokok yang tak memperhatikan orang yang tak merokok ketika sedang breakfast di hotel ada yang merokok padahal ruangan itu ber AC. Saya sangat berharap kepedulian masyarakat akan hal ini karena para perokok pasif sangat peka terhadap asap rokok apalagi di ruangan ber AC.
Malam nya setelah blanja blenji dengan excited barang2 yang indonesia banged, yang udah dikangeni kita makan di resto di Nagoya Hill yang lokasi restaurantnya mirip mirip di Citos banyak makanan Indonesia yang paling Indonesia seperti es teler 77, ayam penyet Ria (masakan indo yang populer di S’pore n Malaysia). kita milih restaurant sunda dengan pilihan menu ikan gurame terbang. Sayur asem, dan lalab sambel serta sate ayam. Di Malaysia tidak ada ikan gurame , biasanya restoran indonesia di Malaysia menyediakan ikan Nila Terbang ( di Malaysia disebut ikan talapia), sayur asem di Malaysia tak ada melinjo dan daunnya, serta sate ayam (nah ini mah populer di Malaysia, walau rasanya agak beda) dan lalab2an/ulam hijau royo royo, cuma gak ada lawan yang doyan lalaban cuma aku sendiri. (pokoknya semua pilihan makanan yang jarang/sulit ditemui di Malaysia)
Keesokan nya sepulang dari Pulau Penyengat kami makan Sea food di Golden Prawn, Kita memilih sendiri makanan laut yang masih mentah yang ditaruh di bak rendah seperti orang yang berjualan di pasar traditional. Senang juga sebelum memilah milah makanan yang akan kita beli saya sempat melihat pemandangan yang jarang kita temukan seperti udang yang masih berenang di air dan bentuknya lurus. Kita memilih ikan yang akan dimasak. Gonggong yang cuma di temui di Batam atau di Kepri, tentu saya tak ketinggalan dipesan. walau tak dipesan gak banyak2 karena anak dan suami tak suka dengan makanan yang agak sesasional ini dan jarang ditemui pula. Tapi ternyata Gonggong ini lebih nikmat disbanding kerang yang terkadang terasa ada pasir pasir.
Sebelum pulang siang hari kami menyempatkan makan di Sederhana, restaurant Padang yang di rawa mangun Jakarta adalah dekat dengan rumah saya. Disini ruangan untuk orang perokok disediakan ditempat terbuka dan kami makan diruangan yang ber AC.
Di Pulau Batam Sight Seing n wisata alam
Sore hari berjalan kaki dari hotel ke Nagoya Hill, Mall yang cukup ramai di Batam. Begitu antusiasnya melihat barang-barang Indonesia banged (saya tak menemukan nya di Malaysia) walau merk berbau English or western seperti Silver Queen, Dust, Hammer, Van Housen, homy ped dll. Ingin rasanya membeli semua tapi bisa bisa disangka akan berniaga di malaysia saat balik Melaka.
Keesokan pagi kami Keliling Batam dengan menggunakan taxy yang sewanya lumayan mahal karena jarak objek wisata yang satu dengan yang lain sangat berjauhan. Saya Cuma berharap kedepan nya ada tempat wisata yang seperti di Melaka Malaysia, kita bisa berkeliling seharian tampa harus mengeluarkan uang untuk transportasi yang mahal.
Pada Tahun 70-80an Pembangunan Industri di Batam untuk menyaingi Singapore dimulai, sayang sekali di akhir th 90an saat krismon melanda Asia, investor asing banyak yang balik kenegaranya meninggalkan sisa sisa kejayaan yang masih tampak. Ada bangunan gaya Eropa yang tertunda pembangunannya. Bangunan yang kokoh dengan beberapa patung orang sedang berkuda bergaya romawi didepan nya.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk melihat Jembatan yang menghubungkan pulau Rempang dan Pulau Galang. Jembatan itu diberi nama Barelang singkatan dari nama nama pulau yang dihubungkan itu. Kita bisa berhenti di tengah jembatan dan untuk menikmati pemandangan indahnya laut yang membiru dengan hamparan pulau pulau disekelilingnya. Sayang sekali ditengah kenyamanan itu kita terganggu dengan berdatangan tukang tukang jualan seperti tukang rujak, tukang minuman dan tukang gorengan udang dan kepiting menghampiri kami dan memenuhi sepanjang jalan, merusak pemandangan. Tapi untunglah mereka tak memaksa kami untuk membeli jualannya.
Dari Jembatan nampak bangunan indah diseberang pulau yang ternyata adalah restauran Golden Fish yang saat itu menggelar acara perpisahan anak2 SD sekolah Islam yang sama dengan Sekolah Islam di Jakarta . Anak saya yang alumni sekolah Islam yang terkenal di Jakarta begitu antusias ingin melihat acara nya. Merasa satu almamater. Tapi nampaknya sekolah ini tak ada kaitan dengan sekolah Islam yang sudah lama exist di jakarta. Pada acara tsb ada anak2 menari tarian dari Tapanuli kemudian dilanjutkan dengan orang tua dan para guru serta murid2 lain nya memberi sumbangan kepada para penari. Sumbangan itu nantinya akan dikumpulkan dan digunakan untuk membangun mushola/masjid sekolah tsb begitu kata pembawa acara. Saya ikut berpartisipasi dengan memberi sumbangan ala kadarnya, walau tak seberapa tapi semoga ada manfaatnya.
Masjid pulau Batam
Masjid ini termasuk masjid yang kami kunjungi sebelum balik Melaka. Masjid
Pulau Bintan dan Pulau Penyengat (wisata sejarah)
Dari Punggur Batam ke Tanjung Pinang di Pulau Bintan memakan waktu 1jam dengan menggunakan Ferry. Kami langsung melanjutkan perjalananan ke Pulau Penyengat , bekas pusat pemerintahan kerajaan Melayu Riau -Lingga-Johor-Pahang. dengan menggunakan perahu sederhana dan sedikit usang tapi Nampak kokoh masyarakat setempat menyebutnya bot Pompong.
Untuk mencapai perahu kita menuruni tangga yang cukup curam membuat ciut juga nyali saya di usia yang tidak muda lagi. Tapi hal ini tidak menyurutkan saya untuk tetap turun tangga dan melompat untuk mencapai perahu yang dipenuhi oleh pegawai2 dan anak sekolah yang baru pulang dari Tanjung pinang.
Nampak para pegawai dan anak sekolah mengenakan Baju Melayu, ternyata ketika saya mengobrol dengan warga setempat mereka mengatakan setiap Jum’at wajib mengenakan baju Melayu. Wanita nya mengenakan baju kurung persis baju kurung yang digunakan oleh kebanyakan warga muslim Malaysia. (Warga Muslim Malaysia baju kantor nya setiap hari adalah baju kurung lengkap dengan kerudung). Di Tanjung Pinang (Kepri) nampaknya ada yang berkerudung ada pula yang tak berkerudung. Untuk kaum pria menggunakan baju melayu lengkap dg ‘samping’ (orang malaysia menyebutnya samping, untuk pelengkap baju melayu laki-laki)
Saat itu sempat pula saya mendengarkan pembicaraan mereka yang berkisah dan sedang merencanakan untuk berlibur ke Johor dan Kuala Lumpur. Tentu untuk penduduk kepualauan Riau ini Johor dan Kuala lumpur tempat yang lumayan dekat disbanding ke daerah lain.
Ketika saya mencoba makanan di Tanjung Bintan dan di Pulau Penyengat sama dengan yang saya temui di Malaysia. Anak saya yang kangen berat dengan otak2 versi jakarta (muara karang) begitu antusias untuk membeli makanan yang berbahan dasar dari ikan itu. Tetapi ternyata setelah dibuka berwarna merah dan rasanya mirip dengan yang sering kita temui di Melaka Malaysia. Begitu juga ketika kita memesan minuman teh , jika kita tak bilang teh O kita akan diberi teh manis. Dan saat saya sedang menikmati teh panas saya melihat teko air untuk pencuci tangan seperti yang sering saya lihat di Malaysia.
Logat bahasa yang digunakan pemilik warung dan masyarakat sekitar agak mirip mirip dengan logat bahasa melayu warga Malaysia. Ada beberapa kosa kata yang digunakan oleh warga Malaysia padahal jarang digunakan oleh warga Indonesia seperti kata “laju” yang berarti “cepat”dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi kosa kata serapan dalam bahasa Inggris yang digunakan oleh warga Malaysia seperti kata “tuisyen” (tution) mereka menggunakan kata “les”
Dengan menggunakan Mobet (motor Becak) kita mengelilingi P. Penyengat. Pertama yang kita kunjungi makam Raja Ali Haji yang sebagian orang mengatakan lahir di Selangor(di wilayah Malaysia) tapi sebagian orang menyatakan Pujangga yang tersohor dengan gurindam dua belas ini lahir di Pulau Penyengat.
Gurindam dua belas adalah hasil karya sastra Melayu yang mempunyai makna yang sangat dalam dan bisa kita jadikan pedoman.
GURINDAAM PASAL YANG PERTAMA
Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilang nama
Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat
Setelah itu kami kami menziarahi makam Raja Jaafar Bangunan makam yang indah terbuat dari beton dengan pilar pilar dan atap berkubah kecil , mulanya saya kira itu masjid, dam dikelilingi pagar tembok. Melalui pintu samping kita berjalan kearah dimana istana pernah berdiri. Sekarang hanya dapat dilihat pintu gerbang Istana yang kokoh karena istananya sudah dihancurkan atas perintah Sultan dan pengikutnya untuk meruntuhkan bangunan untuk menghindarkan milik mereka jatuh ketangan Belanda.
.
Kemudian kita ke Balai Adat indera Perkasa adat istiadat dan agama islam dan kebudayaan melayu itu dipamerkan pelaminan yang mirip dengan pelaminan yang pernak pernik serta warna dan dilengkapai payung kuning seperti pelaminan dari Minangkabau hanya yang membedakan adalah bentuk dari Banta Gadang nya.
Sebelum kembali ke Tanjung Pinang suami sholat Jum’at di Masjid Sultan Riau atau sering disebut juga Masjid Pulau Penyengat. yang dibangun secara gotong royong di th 1832. Diriwayatkan pembangunan masjid ini menggunakan campuran putih telur sehingga kadang banyak juga yang menyebut Masjid Putih Telur.
Selepas dari Pulau Penyengat kami ke Tanjung Pinang, yang disebut Kota Gurindan dan memiliki tugu peringatan Gurindam untuk melanjutkan kembali ke Batam. Saya menyusuri pinggir laut yang sudah ditata dengan apik mengingatkan pinggiran patai Gurney di Penang hanya disini di depan laut bukan lah Mall tapi gedung gedung perkantoran dan ada restoran Sederhana serta ada tugu Gurindam.
Dekat dengan Batam dan Singapura memang menjadi daya tarik tersendiri dari pulau ini. Tapi sejatinya, pulau ini sendiri memiliki banyak daya pikat. Keindahan alam, salah satunya. Kemilau pasir putih, birunya air laut, dan rimbunnya pepohonan, merupakan perpaduan yang membuat Pulau Bintan begitu cantik.
Kehadiran Pulau Bintan sebagai salah satu ikon pariwisata di Indonesia memang muncul belum lama. Sebelumnya, pemerintah lebih fokus untuk mengembangkan Pulau Batam sebagai sebuah kawasan Industri. Barulah pada 1991, pesona dan potensi wisata pulau yang terletak di bagian barat Pulau Batam ini mulai terkuak. Bekerja sama dengan pemerintah Singapura, pemerintah Indonesia membangun sebuah kawasan wisata khusus yang berstandar internasional. Pada 1996, kawasan wisata ini pun secara resmi dibuka. Bintan Resorts, demikian namanya.
Pengelola Bintan Resorts mengubah lahan seluas 23 ribu hektare menjadi surga bagi wisatawan. Berbagai potensi pariwisata yang terhampar di kawasan ini dikelola dengan sangat baik.
Pengelola membangun sedikitnya tujuh resort dengan berbagai fasilitas berbeda. Di Angsana Resort misalnya, terdapat fasilitas golf, olahraga air, dan spa. Sedangkan di Banyan Tree Bintan, tersedia vila-vila bernuansa alami. Tersedia pula beberapa fasilitas eksklusif semacam jacuzi dan kolam renang. Semua ini benar-benar membuat pelancong dimanjakan.
Pulau Bintan bahasa Jawi
Pariwisata Pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau dipasarkan majalah Infinity Holidays sebagai bagian dari daerah tujuan wisata Singapura lewat berbagai biro perjalanan utama Australia.
Kantor Berita Antara di Brisbane, melaporkan bahwa majalah Infinity Holidays 2009: 10 Asia itu menjadi bagian dari sumber informasi wisata andalan biro-biro perjalanan, seperti Flight Center dan Student Flights.
Pulau Bintan—terletak sekitar 40 kilometer dari Singapura—dipasarkan sebagai daerah tujuan tambahan bagi para wisatawan mancanegara yang berlibur di negara kota tersebut.
Pariwisata bahari dan sejarah di pulau terbesar di gugusan pulau yang ada di Provinsi Kepulauan Riau itu dimasukkan sebagai satu dari 10 tempat atraktif bagi para wisatawan asing yang mengunjungi Singapura.
Di Bintan, para wisatawan tidak hanya disuguhi keindahan pantai pasir putih eksotis, air laut yang jernih, aneka warna batu karang laut, dan berbagai olahraga bahari, tetapi juga resor istirahat yang menawan.
Operator pariwisata Singapura menjual Bintan sebagai tempat berlibur yang tepat bagi para wisatawan yang mengunjungi berbagai daerah wisata Asia dengan kapal pesiar SuperStar.
Di areal resor wisata Pulau Bintan seluas 23.000 hektar itu setidaknya ada lima resor yang ditawarkan Singapura, yakni Mayang Sari, Nirwana Gardens, Bintan Lagoon, Angsana, dan Banyan Tree dengan tawaran harga menginap per malam 101-325 dollar Australia.
Sepanjang 2008, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI menargetkan 380.000 wisatawan Australia datang ke Indonesia, atau meningkat dibandingkan tahun 2007, yang tercatat berjumlah 314.432 orang.