museum Cheng Ho in Malaka
Berita tentang dirilisnya film drama kolosal yang dibintangi oleh dua orang mantan menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), yakni Yusril Ihza Mahendra (berperan sebagai Laksamana Cheng Ho) dan Saifullah Yusuf (sebagai Raja Majapahit) dalam film Laksamana Cheng Ho, juga bergaung di Malaka, Malaysia.
Film drama kolosal ini merupakan hasil produksi bersama enam negara ASEAN. Film yang diproduksi sebanyak 26 episode, rencananya akan ditayangkan di televisi keenam negara ASEAN, mulai awal tahun 2008 ini.
Di Malaka, terdapat Museum Cheng Ho yang sangat luas dan lengkap.
Kota Malaka memiliki banyak tujuan wisatanya, termasuk wisata sejarah. Saking banyaknya tempat wisata di kota
ini, baru kali ini saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Museum Cheng Ho yang diyakini dulunya merupakan tempat laksamana yang beragama Islam ini menyimpan barang atau menjadikan gudang saat kapalnya melewati dan berlabuh di Kota Malaka.
Hal ini diyakini dengan ditemukannya reruntuhan arsitektur dan barang barang peninggalan sejarah dari Dinasti Ming yang ada di dalam gedung yang sekarang dipamerkan kepada khalayak umum.
Di antaranya bermacam-macam bentuk guci dari Dinasti Ming dan ada pula gong dengan hiasan ular naga di tengahnya, khas kebudayaan Cina, yang konon digunakan sebagai salah satu alat komunikasi selain bendera, lentera, dan burung merpati.
Selain itu, benda-benda yang dipamerkan ada pula patung Laksamana Cheng Ho saat kanak-kanak bersama teman dan kakeknya serta replika kapal layar lengkap dengan formasi kapalnya yang sangat banyak.
Museum Cheng Ho dibangun sebagai penghargaan kepada Laksamana Cheng Ho yang lahir pada tahun 1371 dengan nama Ma Ho (Ma singkatan dari Muhamad) di Propinsi Yunan dan ayahnya adalah seorang haji.
Ketika berumur 10tahun, dia ditangkap oleh tentara Cina yang menyerbu Yunan. Pada saat Ma Ho berusia 13 tahun, dia pernah dijadikan kasim (eunuch) dan pembantu rumah tangga anak keempat Kaisar Cina, Pangeran Zhu Di.
Setelah dewasa, Ma Ho menjadi orang yang terampil dalam ilmu perang dan diplomasi dan menjadi orang kepercayaan Pangeran Zhu Di. Pangeran Cina ini kemudian mengganti nama Ma Ho menjadi Cheng Ho, yang kemudian lebih melegenda hingga kini.
Cheng Ho, yang mempunyai perawakan tinggi besar, memberikan kekuatan yang besar ketika Pangeran Zhu Di menjadi kaisar pada tahun 1402. Setahun kemudian Cheng Ho diangkat menjadi Laksamana.
Selanjutnya Laksamana Cheng Ho mengadakan tujuh kali perjalanan dan meninggalkan jejak sejarah hingga di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara (1405-1433). Lima kali dalam perjalanannya itu beliau bersama rombongannya singgah di Malaka. Inilah yang membuat barangbarang peninggalan Laksamana Cheng Ho banyak terdapat di kota ini.
Pada Abad Pertengahan, beliau dipercaya membawa seorang anak Kaisar Cina, Putri Hang Li Po, untuk menikah dengan Sultan Malaka. Rombongan Putri Kaisar Cina ini terdiri dari seratusan anak menteri serta para pembantunya. Kelompok ini kemudian menikah dengan penduduk lokal di Malaka, yang kemudian menciptakan kebudayaan Baba Nyonya yang dikenal luas sekarang ini.
Benda-benda kebudayaan Baba Nyonya ini dipamerkan pula di Museum Cheng Ho yang lengkap ini.
LILY MULTATULIANA, Malaka-Malaysia
Dimuat di Tabloid Parle edisi 126. 18-25 febuary 2008
